Kamis, 03 Maret 2016

Jokowi

Agenda Kunjungan Kerja Presiden Jokowi di Kabupaten Blora

Lahan jagung dibawah tegakan pohon jati hutan petak 18 RPH Ngodo BPKH Ngliron KPH Randublatung yang akan dipanen Presiden Jokowi sudah dipersiapkan sejak Jumat sore (6/3) kemarin.
BLORA. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo dijadwalkan akan melaksanakan kunjungan kerja (kunker) di Kabupaten Blora, pada Sabtu (7/3) besok (hari ini-red). Kepastian itu diperoleh saat digelar rapat persiapan penyambutan Jokowi yang digelar di Pendopo Kabupaten bersama pihak protokoler kepresidenan kemarin.
Sebelum ke Blora, Presiden beserta rombongan terlebih dahulu melakukan kunker di wilayah Jawa Timur tepatnya di Ponorogo dan Madiun. Setelah itu, Sabtu siang dijadwalkan tiba di Kabupaten Blora disambut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng, Pangdam IV Diponegoro dan jajaran Pemkab Blora.
Adapun rincian agenda kunjungan kerja Presiden Jokowi di Kabupaten Blora adalah sebagai berikut :

1.   Selesai melakukan kunker di Kota Madiun, Presiden Jokowi bertolak menuju Kabupaten Blora sekitar pukul 09.00 WIB dengan dilepas oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Kapolda Jatim dan Pangdam V Brawijaya.

2.   Presiden dijadwalkan bakal tiba di Kabupaten Blora sekitar pukul 11.00 WIB melalui jalan darat dari Madiun-Ngawi-Padangan-Cepu-Blora, selanjutnya menuju hutan petak 18 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngodo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ngliron, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Disini Presiden disambut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Dirut Perum Perhutani. Selain panen jagung di hutan Ngliron, Presiden juga akan meninjau lahan demplot tanaman padi sistem pertanian terpadu (Integrated Farming System) di petak 27 BKPH Ngliron.

3.   Pukul 12.00 WIB rombongan Presiden Jokowi akan bertolak ke Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehutanan di Perhutani KPH Cepu Kecamatan Cepu, Blora. Setibanya disana Jokowi akan melakukan peninjauan pengembangan tanaman jati untuk kelestarian hutan. Setelah itu dilanjutkan makan siang.

4.   Pukul 13.45 WIB rombongan Presiden Jokowi akan diajak Bupati Blora Djoko Nugroho untuk meninjau lokasi Lapangan Terbang (lapter) Ngloram di Desa Ngloram Kecamatan Cepu. Harapannya kedepan lapter yang sudah lama tidak aktif ini bisa kembali dioperasionalkan.

5.   Pukul 14.15 WIB rombongan Presiden akan bertolak kembali ke Lapangan Terbang Iswahyudi di Magetan Jawa Timur untuk kemudian kembali ke Jakarta memakai pesawat kepresidenan.

*jadwal bisa berubah mendadak disesuaikan dengan kondisi dan situasi lapangan.

Untuk menjaga keamanan dan kelancaran acara, pihak protokoler bersama Polda Jateng, Kodam IV Diponegoro, Korem 073 Makutarama, Polres Blora, Kodim 0721 Blora sejak beberapa hari lalu sudah mengecek lokasi dan melaksanakan gladi resik bersama berbagai pihak terkait. “Semua sudah disiapkan sedemikian rupa sesuai prosedur operasional kepresidenan. Tidak ada penyambutan khusus, hanya saja masyarakat yang akan dilewati rombongan Presiden diminta memasang bendera merah putih dan umbul-umbul. Semoga besok (hari ini-red) berjalan dengan lancar,” jelas Kepala Humas dan Protokol Pemkab Blora, Irfan Iswandaru.

Pramoedya Ananta Toer

Mengenal Sosok Sastrawan Dunia dari Blora, Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 - 30 April 2006)

Pramoedya Ananta Toer, tokoh sastra Indonesia dari Blora yang disegani dunia
PRAMOEDYA dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.

Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar di kantor berita Domei milik Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.

Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka.

Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.

Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995.

Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00 WIB.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.

Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.

Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak Jakarta. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.

Penghargaan :
  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
  • Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
  • Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
  • Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
  • Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
  • Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
  • The Norwegian Authors Union, 2004
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004
Organisasi : 
  • Anggota Nederland Center, ketika masih di Pulau Buru, 1978
  • Anggota kehormatan seumur hidup dari International PEN Australia Center, 1982
  • Anggota kehormatan PEN Center, Swedia, 1982
  • Anggota kehormatan PEN American Center, AS, 1987
  • Deutschsweizeriches PEN member, Zentrum, Swiss, 1988
  • International PEN English Center Award, Inggris, 1992
  • International PEN Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
Bibliografi (daftar karya sastra karangan Pramoedya Ananta Toer) :
Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
Buku tentang Pramoedya dan karyanya :
  • Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja, oleh Bahrum Rangkuti (Penerbit Gunung Agung)
  • Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya Ananta Toer, oleh A. Teeuw (Pustaka Jaya)
  • Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, oleh Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama)
  • Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer, oleh Apsanti Djokosujatno (Tera Indonesia)
  • Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra, Daniel Mahendra, dkk (Penerbit Malka)
  • Pramoedya Ananta Toer, Luruh Dalam Ideologi, oleh Savitri Scherer (Komunitas Bambu, 2012)
  • Pram dari Dalam, Soesilo Toer (Penerbit Gigih Pustaka Mandiri dan Perpustakaan Pataba Blora), 2013.suara.com.hk
Sampai saat ini rumah kediaman Pramoedya Ananta Toer di Blora masih ada dan digunakan sebagai Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) yang dikelola langsung oleh adiknya yang bernama Soesilo Toer yang kerap dipanggil Pak Soes.

Di Perpustakaan PATABA ini disimpan berbagai macam koleksi karya sastra ciptaan Pramoedya Ananta Toer dan dibuka untuk umum. Alamatnya berada di Jalan Sumbawa nomor 40 Kelurahan Jetis, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora. Harapannya dengan didirikannya perpustakaan ini nantinya generasi muda akan lebih tahu siapa Pramoedya itu sebenarnya dan semakin banyak pemuda yang menyukai karya sastra.

Info Blora


Bidik Adipura, BLH Blora Pusing Atasi Masalah Sampah


Tugu adipura Blora berdiri kokoh di jalan Ahmad Yani Blora (KORAN MURIA/RIFQI GOZALI)
Tugu adipura Blora berdiri kokoh di jalan Ahmad Yani Blora (KORAN MURIA/RIFQI GOZALI)
Koran Muria, Blora – Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora, Wahyu Agustini pusing tujuh keliling untuk mengatasi masalah sampah yang menjadi kendala utama meraih adipura. Padahal, kabupaten yang dikenal dengan julukan Kota Mustika tengah berbenah untuk mendapat Piala Adipura 2016.
”Di Blora sendiri sampah masih menjadi masalah yang belum terpecahkan. Buktinya, tempat pembuangan akhir (TPA) saat ini sudah menggunakan sistem controlled landfill, namun masih terkesan open damping. Selain itu, TPA juga masih banyak sampah yang tercecer,” kata Wahyu.
Sistem open dumping, yakni pembuangan sampah di lahan tanah lapang tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Sedangkan controlled landfill adalah perbaikan atau peningkatan dari sistem open dumping. Perbaikan atau peningkatan ini meliputi adanya kegiatan penutupan sampah dengan lapisan tanah, fasilitas drainase serta fasilitas pengumpulan dan pengolahan.
Selain itu, kontainer pada tempat pembuangan sampah di pasar masih pada bolong-bolong dan kurang bersih. Untuk masalah sampah di permukiman di Blora juga masih belum ada pemilahan sampah. Sebab semua masih tercampur.
Pasar di Blora pun ikut menyumbang permasalahan sampah. Dia mengakui jika tempat pembuangan sampah di pasar masih belum memadai.  Bahkan drainase yang ada di pasar masih belum berfungsi. Termasuk masalah pertokoan yang ada di Blora.
Wahyu juga menegaskan masih belum adanya budaya membuang sampah pada tempatnya juga menjadi biang masalah. ”Seperti kita lihat di pertokoan Jalan Gatot Subroto depan pasar induk Blora dan Jalan Mr Iskandar serta Jalan Pemuda,” jelas Wahyu.
Perkantoran yang ada di Blora pun masih menjadi penyumbang masalah sampah. Hal itu tak lepas dari pemanfaatan pemilah sampah di perkantoran yang masih terkesan mangkrak dan kurang optimal.
”Tong sampah yang kami berikan bahkan ada yang hilang. Hal itu juga terjadi di sekolah, fasilitas transportasi dan rumah sakit yang ada di Blora. Sungai Bangkle, Sungai Grojokan dan Sungai Kajangan,” tambahnya.